Translate Article

30 Malam Di Bandung

Bookmark and Share

Koran lokal Jawa Tengah hari itu hampir selesai seluruhnya aku baca. Penglihatanku tertuju pada kolom iklan lowongan kerja. Kuamati dengan seksama setiap lowongan yang tertulis di koran itu. Ada satu yang menarik perhatianku, yakni sebuah lowongan kerja yang ditulis oleh sebuah perusahaan swasta di Kota Bandung. Walaupun sebenarnya aku belum begitu paham pekerjaan apa yang akan aku jalani jika diterima menjadi karyawan.

Aku berdiskusi dan memohon restu kepada kedua orang tuaku. Aku katakan bahwa mencoba untuk merantau ke kota lain adalah kewajiban moral yang harus dijalani untuk bisa hidup mandiri. Saat itu ayah dengan berat hati melepas kepergianku dengan bekal dan ongkos seadanya. Perasaan ibu mungkin lebih peka dan pastinya merasa khawatir dan sedikit kehilangan.

Kebetulan ada tiga orang temanku yang sudah lebih dahulu merantau di kota Bandung. Dua orang kuliah di tempat yang berbeda, dan satunya lagi sudah bekerja. Dan bus Budiman jurusan Purwokerto-Bandung mengantarkan aku pada perjalanan pertamaku meniti takdir dan impian.

Kondisi yang berbeda aku rasakan setelah sampai di kota kembang ini. Jalanan tampak padat merayap diiringi deru suara klakson angkutan umum bercat hijau. Tujuanku adalah sebuah tempat di Bandung utara dekat kawasan Dago. Disana teman-teman SMU ku ngekost di sebuah rumah yang terdiri dari satu kamar namun memiliki ruang tamu yang luas memanjang.

Sambutan hangat aku dapatkan ketika sampai di kos-kosan tempat markas teman-temanku, karena memang mereka adalah sahabat baik sewaktu sekolah. Warsito dan Bambang sering berkumpul dan menginap saat akhir pekan sewaktu belajar di salah satu SMU negeri di kota Purwokerto. Kami bercanda dan saling berbagi cerita. Secara kebetulan pula, pada waktu itu kami adalah pemuda-pemuda bujang yang belum "laku di pasaran" alias kami semua adalah lelaki jomblo.

Mencari kerja di tahun 1999 ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setelah berkali-kali keluar masuk kantor, tidak ada satupun yang mau menerimaku sebagai karyawan. Dan untuk mengisi waktu luang aku dengan senang hati ikut temanku Martin yang menjadi tukang service kompor gas yang setiap hari kami harus berkeliling dari satu perumahan ke perumahan lain dengan berjalan kaki. Alhamdulillah, walaupun kecil tapi uang hasil jerih payah kami bisa untuk makan sehari-hari. Ini aku jalani selama kurang lebih satu bulan. Sebuah pengalaman pertama dalam bekerja mencari sesuap nasi.

Setelah dirasa tidak ada perubahan seperti yang diharapkan, maka aku putuskan untuk pulang kembali ke Purwokerto mengingat uang persediaanku dari kampung juga hampir habis. Memang dari awal sudah kurencanakan, jika dalam satu bulan tidak juga mendapat kerja, maka aku akan kembali pulang.

Sesampainya di kampung halaman, ibu menyambut dengan perasaan kangen yang luar biasa mengingat aku adalah anak pertama dari tiga orang bersaudara. Bagi ibu, ini adalah kali pertama merasakan sepinya ditinggal anaknya merantau. Dia bercerita bahwa kalau sedang memasak selalu ingat akan diriku. Hikmahnya adalah betapa keluarga adalah bagian penting dari kehidupan yang harus kita jaga dan syukuri.

Bandung akan selalu menjadi kenangan. Hawa dingin dan suasana kota menjadi hal yang selalu tercatat rapi dalam hati. Sebuah perjalanan yang akan terus berlanjut sampai mata terpejam untuk selama-lamanya.

(Gambar: pasteurguesthouse.com)


{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Kotak_Pesan_Dunia