Translate Article

Diam Dalam Geram

Bookmark and Share

Hari-hari yang gelisah itu mulai terasa,
mengendus-endus mencari ruang yang paling nyaman,
merayap-rayap menemukan waktu yang paling tepat,
tuk berbicara dari nurani yang tertutup stigma dan paradigma,
yang menancap bagaikan akar-akar yang kokoh dan tak mudah tumbang,
meski berkali-kali tubuh yang kekar itu dihempas badai,
tergoda oleh terik sang surya,
dan sesekali tergiur oleh semilir angin malam,
yang menusuk-nusuk lembut,
dingin sampai sungsum lapisan terdalam...

Hari-hari yang mendebarkan itu tlah sampai pada "pelaminannya",
mencoba untuk mendapatkan "pengasuh" yang paling bijak,
dan ia sangat merindukan seorang sahabat,
yang slalu mengerti dan paham,
bahwa melodi yang slama ini terdengar,
tlah terbuang dari pijakan sejatinya,
"notasi-notasi" suci yang seringkali diabaikan keberadaannya...

Ketika sesuatu yang "kasat mata",
tak kuat lagi menjalin persahabatan dengan sesuatu yang tampak oleh mata dan mampu kita raba,
maka kecewa, nestapa, batin yang lara,
adalah "musuh" yang mesti dikendalikan,
saat "kuasa diri" sedang tak bersemayam di singgasana waktu,
bersama selendang kewibawaan yang slama ini senantiasa setia,
menentang alur fatamorgana,
dan mengobrak-abrik pondasi-pondasi yang kokoh,
dari bangunan kemunafikan...

Kini...ia hanya ingin diam dalam geram,
diam dan terus terdiam....

(Gambar: gaulgelaa.com)


{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Kotak_Pesan_Dunia