Translate Article

Siapkah Anda Menikah Hari Ini?

Bookmark and Share
* Menikah Adalah Ibadah *
(Gambar: tiyuz.wordpress.com)

Siapkah Anda Menikah Hari Ini? Pertanyaan seperti ini saya ajukan bagi Sobat semua yang belum pernah menikah sama sekali atau yang ingin sekali menikah atau yang memang sedang mempersiapkan hari H pernikahan Anda. Saya yakin bagi sebagian banyak orang, menjawab pertanyaan seperti ini adalah hal yang kadang sulit, artinya jawaban yang diberikan berada diantara yakin dan tidak yakin. Dari batin kita yang paling dalam mungkin akan menjawab In Shaa Allah siap, namun logika kita mengatakan bahwa menikah bukanlah perkara satu jam atau dua jam saja, menikah itu konsekuensinya adalah seumur hidup.

Nikah secara bahasa artinya berkumpul dan bergabung atau bersatu. Bahwa manusia itu diciptakan Tuhan secara berpasang-pasangan, sehingga dengan menikah akan menyempurnakan kehidupan manusia. Ada hadist yang menyebutkan bahwa menikah itu adalah separuh dari agama, dan kita tinggal menyempurnakan atau menjaga separuhnya lagi dengan ketaqwaan (HR. al Baihaqi dalam Syu'abul Iman no. 5486).

Dengan demikian dapat kita ambil sebuah pemahaman bahwa menikah memiliki nilai ibadah yang sangat mulia dan pernikahan akan membawa ke arah hidup yang penuh berkah dan keselamatan. Bahkan ada 'Ulama yang menafsirkan bahwa seseorang yang berjuang mati-matian untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya setelah proses Ijab Qobul, maka pahala yang didapatkan setara dengan para Syuhada yang rela mengabdikan dirinya hanya untuk Allah Sang Rahman semata.

Tapi sayangnya, yang membuat hati kita miris adalah banyak terjadi di sekeliling kita saudara-saudara kita yang tidak bahagia kehidupan rumah tangganya. Setiap hari kita menyaksikan pertengkaran demi pertengkaran, saling menghujat antara suami dan istri yang terdengar tetangga sekitar rumah mereka. Rumah sudah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman dan damai. Rumah menjadi neraka yang sangat menakutkan. Banyak juga yang berujung pada perceraian, atau jika kita melihat bahwa mereka itu baik-baik saja, namun yang terjadi adalah kasus perselingkuhan yang tidak terdengar di telinga.

Nah, Sobat semua, menikah itu membutuhkan persiapan agar tidak berubah menjadi ladang derita. Bukanlah persoalan harta atau uang semata, namun persiapan yang sangat dibutuhkan sebenarnya adalah kemampuan manajerial, komunikasi yang baik, dan kesabaran tingkat tinggi. Jika ketiga hal tersebut sudah ada pada calon suami istri, niscaya hal-hal lainnya yang belum ada dan belum dimiliki akan mudah untuk diraih bersama-sama dan kesuksesan membangun keluarga yang bahagia bisa tercapai.

Kemampuan manajerial adalah kemampuan seorang suami dalam membimbing diri dan istrinya untuk selalu menjalani aktivitas-aktivitas kehidupan sesuai dengan jalan yang benar sesuai dengan agama yang dianut. Seorang suami adalah pemimpin yang harus mampu mengatur strategi, merumuskan visi dan misi rumah tangga serta mewujudkannya dengan cara yang halal, mengetahui dan memahami setiap resiko yang akan terjadi dalam kehidupan rumah tangga dan mampu mengatasinya dengan bijak.

Komunikasi yang baik adalah pondasi yang harus ada. Ini bisa dipelajari saat tahun-tahun pertama pernikahan kita. Janganlah langsung menghakimi kesalahan sekecil apapun dari pasangan Anda. Selama itu bukanlah perbuatan yang dilarang agama dan termasuk dosa-dosa besar, maka mengingatkan adalah langkah yang tepat ketika mendapati sesuatu yang kurang pas atau sreg di hati kita. Belajar untuk saling mengerti dan memahami adalah kunci keutuhan rumah tangga.

Dan yang ketiga adalah kesabaran tingkat tinggi. Anda tentu sering melihat bahwa kadang ada keluarga yang secara ekonomi itu mapan, namun tidak terlihat suasana yang harmonis dalam kesehariannya. Namun sebaliknya, ada keluarga yang meski ekonominya pas-pasan namun hidup rukun, dan ada juga keluarga yang sudah miskin ditambah lagi tidak harmonis. Yah...siapa sih orang yang nggak kepingin keluarganya kaya dan harmonis? 

Karena itulah untuk mengimbangi kekurangan yang masih diperjuangkan keluarga kita, maka kesabaran diperlukan saat menjalani proses kehidupan yang kadang melelahkan dan membuat frustasi. Suami dan istri sama-sama memahami bahwa mencari nafkah itu pasti melelahkan, dan saling mengisi kekurangan masing-masing adalah hal baik yang bisa melanggengkan kehidupan rumah tangga. Egois dan acuh tak acuh adalah karakter yang harus dibuang jauh-jauh.

Berusahalah untuk tidak saling melampiaskan kemarahan saat keluarga sedang mengalami masalah yang berat, karena perceraian seringkali berawal dari kekerasan hati yang mengganggap bahwa dirinyalah yang paling benar kemudian menjelek-jelekkan pasangannya dengan kemarahan yang tak terkendali. Susah senang harus dijalani bersama. Jangan ada pihak ketiga, lebih baik Anda berembug dengan keluarga dekat yang bisa menjaga rahasia ketika ingin berbagi keluh dan kesah. Ingat! jangan libatkan orang lain terlalu jauh. Mudah-mudahan bagi Anda yang sudah merasa siap untuk menikah nantinya akan menjadi keluarga yang harmonis, sejahtera, dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin.


{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Kotak_Pesan_Dunia