Header Ads

test
  • Home
  • Berita
  • Bisnis
  • Belanja
  • Gadget
  • Game
  • Investasi
  • Sekolah
  • Komputer
  • Puisi
  • Privacy Policy
  • Wisata
  • Sukses Dengan Manajemen Uang Ketat

    (Manajemen Uang Ketat)

    Besar pasak daripada tiang, dapetnya sebulan ngabisinnya satu jam, adalah beberapa contoh perumpaan yang bisa kita petik hikmahnya. Banyak keluarga yang mengalami kesulitan keuangan akibat kurangnya keterampilan mengelola penghasilan yang didapatkan. Uang yang diperoleh dengan susah payah selama satu bulan lamanya bisa habis hanya dalam waktu yang singkat. Maka dari itu pengetahuan tentang bagaimana mengelola uang penghasilan dengan benar dan tepat perlu diterapkan bagi kita yang ingin keluarga kita terbebas dari kerepotan ekonomi dan bisa terbebas dari hutang. Saya memberikan istilah untuk usaha seperti ini dengan nama "Manajemen Uang Ketat".

    Manajemen Uang Ketat adalah sebuah teknik mengelola keuangan keluarga dengan seefisien dan seefektif mungkin agar dapat mencukupi kebutuhan, terutama kebutuhan pokok manusia, kemudian memiliki tabungan dan bisa menghindarkan diri dari hutang atau pinjaman. Teknik yang saya maksudkan adalah dengan cara memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pokok saja. Sedangkan kebutuhan lain yang sifatnya hanya untuk memenuhi gaya hidup sejauh mungkin dihindari agar kelak keluarga akan merasakan kesejahteraan ekonomi dalam waktu yang lama.

    Kita buat ilustrasi sebagai berikut, misalnya saja kita berharap bahwa In Shaa Allah umur kita tinggal 50 tahun lagi. Dari sisa waktu 50 tahun itu kita tidak membiarkan kondisi ekonomi keluarga terus menerus susah dalam artian terjebak dengan hutang yang semakin bertambah, istilahnya gali lubang tutup lubang (Kata Haji Rhoma Irama...Hehehehe). Dengan menerapkan manajemen uang ketat kita memutuskan bahwa biarlah selama 10 tahun hidup prihatin, tetapi setelah 10 tahun berikutnya keluarga menjadi sejahtera makmur sentosa. Berarti ada sisa waktu 40 tahun menikmati kenyamanan ekonomi.

    Prihatin disini maksudnya bukanlah hidup seperti orang yang kelaparan dan hidup tanpa tempat tinggal yang layak. Prihatin berarti kita tidak tergiur dengan prinsip kebanyakan orang yang merasa gengsi dan malu apabila tidak mengikuti gaya hidup glamour, berpenampilan wah, dan serba mahal. Prioritaskan pengeluaran hanya untuk kebutuhan pokok saja. Seperti makan, tempat tinggal (bagi yang masih mengontrak rumah), biaya sekolah anak, biaya tagihan listrik dan air, pakaian secukupnya. Bagi yang penghasilan bulanannya pas-pasan memasak makanan sendiri adalah pilihan tepat untuk mengurangi pengeluaran yang berlebihan. Bolehlah sekali-kali kita makan diluar rumah bersama anggota keluarga, namun jangan sampai dijadikan kebiasaan. Ingat bahwa jika umur Anda panjang, kebiasaan mengeluarkan uang yang seperti ini akan menyusahkan keluarga di masa yang akan datang.

    Kemudian sisihkan 20 persen uang penghasilan kita untuk ditabung, yang kelak akan kita gunakan untuk membeli aset untuk berinvestasi. Dengan investasi yang cerdas, income kita akan bertambah. Investasi bisa dalam bentuk mendirikan usaha atau bisa juga dengan membeli aset seperti tanah yang harga jual kembalinya sangat tinggi karena terjadi kenaikan harga setiap tahunnya. Tabungan ini juga berguna saat keluarga berada dalam kondisi yang benar-benar kepepet, entah karena ada anggota keluarga yang sakit atau keperluan lainnya yang sifatnya mendadak. Jika kita tidak memaksakan diri untuk menabung, maka janganlah sedih kalau suatu saat keluarga menderita akibat pengelolaan uang yang tidak benar ini. Kita harus tega kepada diri sendiri untuk disiplin menabung. Nah, jangan lupa pula untuk menyisihkan 5 persen penghasilan kita untuk sedekah. Sedekah merupakan anjuran para Ustadz agar harta yang kita miliki akan menjadi berkah dan membawa kebahagiaan lahir batin bagi keluarga. Sedekah pula yang membawa kehidupan keluarga ke dalam keajaiban-keajaiban diluar nalar manusia.

    Demikianlah pengertian manajemen uang ketat yang saya maksudkan. Hal ini mengingat begitu banyak keluarga yang hidupnya tidak bahagia karena cenderung menghambur-hamburkan uang penghasilan untuk keperluan sekunder, dan akhirnya keharmonisan rumah tangga menjadi taruhannya. Ada peribahasa yang mengatakan bahwa uang sekecil apapun akan selalu cukup jika digunakan untuk memenuhi kebutuhan, namun uang sebesar apapun akan selalu terasa kurang jika digunakan untuk memenuhi gaya hidup.

    Tidak ada komentar