Header Ads

test
  • Home
  • Berita
  • Bisnis
  • Belanja
  • Gadget
  • Game
  • Investasi
  • Sekolah
  • Komputer
  • Puisi
  • Privacy Policy
  • Wisata
  • Sisi Lain Dunia Pendidikan Indonesia

    Tampilan Gambar Ki Hajar Dewantara Di Google
    (Gambar Ki Hajar Dewantara Di Halaman Depan Google)

    Ada satu hal yang menarik dan dapat kita lihat pada mesin pencari Google diawal bulan Mei 2015, yakni Google memasang gambar tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara di halaman depan mesin pencari paling populer di dunia ini. Dengan melihat gambar tokoh pendidikan Indonesia tersebut, para pengguna internet akan segera mengetahui bahwa kita sedang memperingati hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 02 Mei 2015 Sabtu kemarin.

    Google memang memiliki cara unik tersendiri untuk menarik perhatian pengguna internet di Indonesia dengan menampilkan gambar yang berkaitan dengan peringatan hari-hari besar atau suatu gambar yang akan mengingatkan kita pada suatu peristiwa penting dan memiliki citarasa sejarah yang tinggi. Kita patut memberikan apresiasi postif dengan strategi yang dilakukan Google ini untuk semakin dekat dengan para pengguna setianya yakni masyarakat Indonesia yang membutuhkan informasi.

    Namun, dibalik keindahan gambar tokoh pendidikan nasional yang ditampilkan oleh google tersebut, kita akan mendengarkan berbagai cerita yang kurang menyenangkan berkaitan dengan dunia pendidikan di Indonesia. Banyak hal yang harus dicarikan solusi yang bijak akibat permasalahan yang dialami dunia pendidikan kita. Dari mulai kurikulum yang tidak konsisten sampai nasib tenaga pengajar alias guru yang kesejahteraannya belum maksimal diperhatikan.

    Menurut penuturan beberapa pengawas sekolah negeri dan swasta yang ada di Jakarta Utara menyebutkan bahwa tahun depan kita akan kembali lagi menggunakan Kurikulum 2013 (kurtilas) yang sejak awal diterapkannya kurikulum 2013 banyak terjadi kejanggalan dari segi kesiapan pemerintah mendukung sekolah-sekolah untuk dapat melaksanakan Kurikulum 2013 dengan baik. Kejanggalan ditemukan antara lain pada proses pengadaan buku pelajaran yang membuat bingung sekolah karena ada beberapa perusahaan yang terlibat dan setelah dicek ke alamat yang tercantum, tidak ada pihak perusahaan penyalur buku yang dapat dijumpai.

    Belum lagi saat ini nasib memilukan dialami sekitar 6.000-an guru honorer negeri yang ada di DKI Jakarta yang selama empat bulan belum digaji oleh pemerintah. Jangankan guru honorer, pejabat struktural yang berada di lingkungan Suku Dinas Pendidikan pun pernah mengalami hal serupa yakni belum menerima gaji dari pemerintah dalam beberapa bulan. Apa yang terjadi ini semakin membuat kecewa masyarakat dunia pendidikan dengan kinerja pemerintahan sekarang. Pemerintah kurang peduli dengan nasib rakyatnya yang dulu sudah bersusah payah memberikan dukungan dengan mengikuti pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah.

    Selain itu, kita terlalu memaksakan diri kepada anak bangsa untuk mempelajari segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan kehidupan sosialnya. Anak-anak zaman sekarang tidak efektif kalau dicekoki dengan berbagai macam bidang studi pelajaran yang membuat mereka jenuh. Pendidikan kurang menyentuh dengan apa yang dibutuhkan masyarakat agar anak bangsa mampu mengelola sumber daya alam Nusantara agar dapat memberikan kesejahteraan bangsa.

    Kita tak bisa mengikuti kurikulum dari negara manapun, karena dilihat dari gemografi dan keragaman budayanya kurikulum pendidikan di Indonesia harus berbeda dengan negara lain. Lebih baik pendidikan menyediakan fasilitas bagi anak bangsa untuk mengakses ilmu pengetahuan dan informasi ketimbang memaksa peserta didik untuk memahami pelajaran tertentu. Pendidikan harus menyediakan akses informasi, tempat praktikum yang memadai, dan yang ketiga adalah adanya hubungan langsung antara sekolah dengan dunia usaha.

    Pendidikan di Indonesia akan menjadi lebih baik kalau kurikulum yang ada selaras dengan rencana pemerintah dalam melaksanakan pembangunan di segala bidang. Jika pemerintah berencana untuk memajukan bidang kelautan, maka pendidikan harus menyesuaikan dengan membekali anak bangsa pengetahuan serta ketrampilan dalam mengolah hasil-hasil laut Nusantara. 

    Tentu sangat aneh jika bidang kelautan yang akan dijadikan pondasi ekonomi tetapi sekolah yang ada adalah kebanyakan jurusan atau program studi yang tidak sesuai dengan visi dan misi pemerintah. Jadi solusinya adalah pemerintah harus memperjelas visi misi dan rencana yang akan dilakukan untuk membangun perekonomian bangsa, perusahaan-perusahaan apa yang akan dibangun, produk apa yang akan diolah, baru setelah itu kurikulum pendidikan disesuaikan agar matching dengan dunia usaha dan industri.

    Misalnya, jika pemerintah ingin menjadikan produk batu akik atau mulia nusantara sebagai komoditi utama, maka mau tidak mau sekolah yang mengajarkan pengolahan batu akik secara profesional dan berkualitas harus didirikan. Dan hal ini bisa diterapkan juga untuk bidang lainnya seperti peternakan dan perikanan yang merupakan produk yang telah mampu memberikan kemakmuran bagi masyarakat yang menekuni usaha di bidang ini.

    Tidak ada komentar