Translate Article

Smart City Kota Tanpa Mesin dan Polusi

Bookmark and Share
(Gambar: idealistrevolution.org)

Kemampuan manusia menciptakan mesin-mesin kendaraan bermotor melahirkan masalah yang mengancam kesehatan diri dan lingkungannya. Kemacetan, kecelakaan lalu lintas, polusi, dan pemborosan energi yang tak dapat didaur ulang terlahir dari "rahim" kemajuan teknologi. Manusia dibuat pusing dengan kecanggihan teknologi yang dibuatnya sendiri. Manusia bisa menciptakan teknologi yang canggih dengan baik, tetapi tidak memiliki teknik yang ampuh untuk mengendalikan manusia untuk berperilaku baik dan menggunakan teknologi dengan cara yang tidak merugikan dirinya sendiri.

Permasalahan tersebut sering menyebabkan hal yang merugikan manusia. Kemacetan misalnya, secara psikologis orang yang terjebak kemacetan lalu lintas sering mengalami kondisi batin yang negatif, emosi yang berakibat buruk bagi kesehatan. Orang jadi gampang marah, timbul frustasi yang berlebihan, bahkan di negara kita kemacetan lalu lintas pernah menyebabkan kematian seperti yang terjadi saat libur hari raya Idul Fitri di Brebes, Tawa Tengah, Indonesia.

Car free day adalah salah satu program yang sudah cukup baik dilaksanakan, yang memberikan sedikit waktu bagi manusia untuk menghirup oksigen gratis secara maksimal dan mengurangi beban alam dalam menyeimbangkan iklim serta cuaca agar tak terjadi bencana alam yang besar. Car Free Day juga dimanfaatkan masyarakat untuk berbisnis demi menambah income keluarga.

Namun, program car free day yang sudah dilaksanakan ini tentu tak cukup untuk memperbaiki kerusakan lingkungan akibat polusi udara. Salah satu gagasan yang bisa diterapkan adalah dengan membuat kebijakan bernama "Smart City, Kota Tanpa Mesin dan Polusi".

Program smart city seperti ini tampaknya belum muncul di benak para pemimpin atau kepala daerah, yang berani mengeluarkan peraturan dimana dalam radius sekian kilometer persegi tidak boleh ada masyarakat yang menggunakan kendaraan bermotor non listrik. Masyarakat bisa menggunakan kendaraan seperti sepeda, becak, andong, dan tentunya kendaraan tersebut aman bagi lingkungan. Dan untuk mengangkut pasien dan lain-lain bisa menggunakan kendaraan ambulan yang bertenaga listrik. Sementara untuk transportasi ke luar kota kendaraan bis dan kereta tetap dioperasikan.

Hemm...mungkinkah di negara kita ada kota yang menerapkan kebijakan seperti ini? Bayangkan di masa lalu saat lingkungan terasa indah berseri tanpa suara bising kendaraan bermotor dan udara pun terasa bersih dan menyegarkan.



{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Kotak_Pesan_Dunia